Sidoarjo, Fspkep.id – Nuansa tradisi dan semangat kebersamaan menyelimuti Desa Gelang, Kecamatan Tulangan, dalam perayaan puncak Ruwah Desa yang digelar meriah pada Sabtu malam.
Dengan mengusung tema besar “Bergerak Serentak Maju Bersama Membangun Desa”, acara ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menatap masa depan pembangunan desa.
Acara puncak yang dipusatkan di balai desa setempat ini tidak hanya sekadar ritual tahunan, melainkan menjadi ajang silaturahmi akbar bagi seluruh elemen masyarakat Desa Gelang.
Kehadiran Tokoh dan Sinergi Forkopimca
Kemeriahan acara semakin terasa dengan kehadiran jajaran pejabat penting.
Kepala Desa Gelang, Dedy Dwi Nugroho, S.H., menyambut langsung kedatangan Camat Tulangan, Moch. Andi Sulistyono, S. STP., M. Si, beserta jajaran Forkopimca (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) Tulangan.
Dalam sambutannya, Dedy Dwi Nugroho menegaskan bahwa tema “Bergerak Serentak Maju Bersama” bukan sekadar slogan. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik harus seimbang dengan pembangunan mental dan pelestarian budaya.
”Ruwah Desa adalah momentum kita untuk bersyukur sekaligus berkontemplasi. Dengan bergerak serentak, tantangan seberat apa pun dalam membangun Desa Gelang akan terasa lebih ringan jika dipikul bersama-sama,” ujar Dedy di hadapan ratusan warga.
Camat Tulangan, Moch. Andi Sulistyono, memberikan apresiasi tinggi atas kerukunan warga Desa Gelang. Menurutnya, keguyuban yang ditunjukkan dalam acara Ruwah Desa merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk mendukung program-program pemerintah daerah.
”Kecamatan Tulangan sangat bangga dengan inisiatif Desa Gelang.
Kehadiran Forkopimca di sini adalah bentuk dukungan penuh kami.
Budaya adalah jati diri, dan melalui acara seperti ini, kita memastikan jati diri bangsa tetap terjaga di tengah arus modernisasi,” tutur Andi Sulistyono.
Kemeriahan Ludruk “Karya Baru”
Puncak acara ditandai dengan pagelaran kesenian tradisional Ludruk “Karya Baru”. Kesenian khas Jawa Timur ini berhasil menyedot perhatian warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Lakon yang dibawakan penuh dengan pesan moral, kritik sosial yang dibalut humor segar (parikan), serta selingan tari Remo yang gagah. Gelak tawa warga pecah saat para pemain ludruk mulai beraksi di atas panggung, menciptakan atmosfer yang hangat dan akrab.
(Alfan)






















Leave a Reply