Jakarta | Fspkep.id – Di sebuah klinik khusus menangani anak-anak berkebutuhan Khusus, sosok cantik Alvina Somantri tampak sibuk namun penuh kesabaran menghadapi seorang anak yang sedang bergumul dengan emosinya. Bagi Alvina, setiap teriakan dan tantrum bukanlah gangguan, melainkan sebuah pesan yang belum terucap.
Sosok terapis muda ini membuktikan bahwa profesi terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan menemukan sisi kemanusiaan yang lebih dalam.
- Berawal dari “Kecemplung” hingga Berenang Sepenuh Hati
Siapa sangka, perjalanan Alvina di dunia pendidikan khusus bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Saat pandemi Covid-19 melanda, keterbatasan ruang gerak membuatnya harus memilih kampus yang dekat dengan domisili.
Pilihan jatuh pada Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
”Awalnya nggak ada cita-cita jadi guru ABK. Karena nggak mau ambil jurusan akuntansi yang penuh hitungan, akhirnya pilih Pendidikan Khusus tanpa riset. Istilahnya, aku ‘kecemplung’,” kenangnya sambil tersenyum.
Namun, fase “kecemplung” itu berubah saat ia mulai terjun ke yayasan dan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Alvina terkesima melihat dunia dari sudut pandang anak-anak spesial ini. Ia menyadari bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa cerdas dengan caranya sendiri.
“Mereka itu simpel, nggak overthinking kayak kita. Dari mereka aku belajar banyak hal tentang kehidupan,” tambahnya.
Ketertarikan inilah yang membawanya mendalami spesialisasi autisme dalam penelitian skripsinya.
- Memilih Jalur Terapi: Fokus pada Perilaku dan Kedekatan Personal
Setelah lulus, Alvina memilih jalur yang sedikit berbeda dari rekan sejawatnya.
Alih-alih mengejar birokrasi pendidikan formal yang rumit, ia memilih menjadi terapis di klinik swasta dan melayani home visit.
Bagi Alvina, menjadi terapis memberinya ruang untuk fokus secara intensif.
“Kalau di sekolah kan mengajar materi secara klasikal. Kalau terapi, kami fokus satu jam untuk satu anak. Fokusnya bukan lagi sekadar kertas dan pensil, tapi perubahan perilaku,” jelasnya.
Seni Kesabaran dan Membaca “Bahasa Tubuh”
Menjadi terapis ABK membutuhkan cadangan sabar yang tak terbatas. Alvina menceritakan bagaimana ia harus menjadi detektif bagi perasaan anak-anak didiknya. Saat seorang anak tantrum, ia tidak langsung menghukum, melainkan merunut ke belakang: Apakah mereka baru saja makan cokelat? Apakah mereka kurang tidur? Atau ada bagian tubuh yang sakit namun tak bisa mereka komunikasikan?
”Anak-anak ini kalau sakit nggak bisa mendeskripsikan rasanya. Jadi mood mereka sangat dipengaruhi kesehatan fisik. Kalau mereka lagi cranky, aku harus turunkan standar materinya. Yang penting aspek tujuannya—seperti fokus—tetap tercapai dengan cara yang lebih menyenangkan,” ungkap Alvina.
- Momen Haru: Saat “Mama” Menjadi Kata Pertama
Salah satu pengalaman yang paling menyentuh hati Alvina adalah saat menangani Zen, seorang anak non-verbal berusia 6 tahun yang ia kunjungi di rumah. Selama bertahun-tahun, Zen hanya bisa berkomunikasi dengan menarik tangan orang dewasa.
Melalui terapi wicara dan latihan oral motor yang telaten, progres itu akhirnya datang.
“Sekarang dia sudah mulai bisa mengucap vokal A-I-U-E-O. Bahkan sudah bisa panggil ‘Mama’, meski masih dengan nada ocehan bayi.
Melihat dia mulai bisa berkomunikasi dan orang tuanya melaporkan progres dengan bahagia, itu rasanya luar biasa,” kata Alvina dengan nada haru.
- Prinsip Diferensiasi: Setiap Anak Punya Standar Berbeda
Alvina menolak keras menyamakan standar perkembangan semua anak. Baginya, setiap anak adalah individu yang unik. Jika seorang anak belum bisa berhitung menggunakan jari, ia akan menggunakan manik-manik atau botol sebagai benda konkret.
Jika anak belum bisa menulis tapi menunjukkan bakat membaca, maka potensi membacanya itulah yang akan ia asah terlebih dahulu.
”Jangan dipaksa. Kalau anak nggak bisa pakai sendok biasa karena sensitivitas rahangnya, kita cari sendok yang lebih elastis atau melengkung. Kita harus banyak eksplorasi,” tegasnya mengenai pentingnya metode diferensiasi.
- Bukan Sekadar “Batu Loncatan”
Meski terlihat manis, Alvina jujur mengakui bahwa pekerjaan ini sangat melelahkan secara fisik dan mental. Lebam di tangan akibat cakaran atau benturan saat anak tantrum adalah “makanan” sehari-hari.
Baginya, anak-anak tersebut terkadang sedang mengetes pola: “Kalau aku marah, apakah belajarnya berhenti?” Di sinilah ketegasan dan kasih sayang seorang Alvina diuji.
Ia pun berpesan bagi siapa saja yang ingin terjun ke dunia ini agar memiliki niat yang murni.
”Pekerjaan ini capek banget, menguras tenaga. Tapi kalau niatmu memang mau membantu mereka berproses, silakan masuk. Jangan jadikan ini sekadar batu loncatan atau uji coba, karena jika tidak sepenuh hati, yang sakit bukan cuma terapinya, tapi perkembangan anaknya juga.”
Bagi Alvina Somantri, setiap progres kecil-kekecil apa pun itu adalah kemenangan besar.
Di balik wajah cantiknya, tersimpan kekuatan mental untuk terus mendampingi anak-anak spesial ini menuju kemandirian.
(Alfan)






















Leave a Reply