Ratusan Jamaah Padati Pengajian “13-an” di Ngimbangan, Kupas Makna Keberkahan dan Totalitas Pasrah kepada Allah

MOJOKERTO, Fspkep.id – Suasana khidmat menyelimuti Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto pada Jumat siang ini. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru memadati kediaman Gus Jalil Jalaluddin dalam rangka mengikuti rutinan Pengajian “13-an”. Agenda yang menjadi magnet spiritual warga setempat ini menghadirkan pesan mendalam tentang navigasi batin dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh agama dan gus ternama, di antaranya Gus M. Farid Nuruddin, Gus Sugeng Anwarudin, dan Gus Thoin, yang turut memberikan dukungan moral bagi keberlangsungan majelis ilmu ini.

Keberkahan: Bukan Soal Jumlah, Tapi Kemanfaatan
Dalam sesi pertama, Bu Nyai Khumairoh memberikan paparan bernas mengenai konsep keberkahan hidup. Beliau menekankan bahwa banyak orang terjebak mengejar kuantitas materi, namun melupakan esensi barokah.

“Berkah itu bukan berarti jumlahnya banyak, tapi ziyadatul khair, bertambahnya kebaikan. Harta sedikit tapi cukup untuk ibadah dan menyekolahkan anak, itu berkah. Umur pendek tapi manfaatnya luas, itu berkah,” urai Bu Nyai Khumairoh di hadapan jamaah yang menyimak dengan antusias.

Beliau juga mengingatkan bahwa pintu keberkahan seringkali terbuka melalui jalur bakti kepada orang tua dan menjaga kerukunan dalam rumah tangga.

Lillahi Ta’ala: Seni Berserah Diri Tanpa Menyerah

Melanjutkan pesan spiritual tersebut, Gus Izzul Kafie mengupas tuntas mengenai konsep kepasrahan hidup atau tawakkal yang sesungguhnya. Menurut beliau, kepasrahan kepada Allah (Lillahi ta’ala) bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan puncak dari kekuatan mental seorang mukmin.

“Pasrah itu diletakkan setelah ikhtiar maksimal. Ketika kita sudah berkata ‘Lillahi ta’ala’, maka beban di pundak kita sejatinya sudah kita titipkan kepada Sang Pemilik Semesta. Inilah kunci ketenangan batin di tengah zaman yang penuh tuntutan ini,” tegas Gus Izzul.

Beliau menambahkan bahwa hidup dengan prinsip Lillahi ta’ala akan menjauhkan seseorang dari sifat sombong saat berhasil, dan menghindarkan dari depresi saat menghadapi kegagalan.

Guyub Rukun di Desa Ngimbangan
Kehadiran para tokoh seperti Gus Farid, Gus Sugeng, dan Gus Thoin menambah marwah pertemuan rutin ini. Kehadiran mereka menyimbolkan kuatnya jejaring silaturahmi antar-pesantren dan tokoh agama di wilayah Mojokerto.

Gus Jalil Jalaluddin selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukur atas istiqomahnya para jamaah yang hadir. Pengajian “13-an” ini memang telah lama menjadi wadah “cas batin” bagi warga, sekaligus menjadi penggerak ekonomi mikro bagi pedagang kecil di sekitar lokasi acara.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Gus Farid Nuruddin, memohon keselamatan bangsa dan kemantapan iman bagi seluruh jamaah yang hadir.Ratusan Jamaah Padati Pengajian “13-an” di Ngimbangan, Kupas Makna Keberkahan dan Totalitas Pasrah kepada Allah

MOJOKERTO – Suasana khidmat menyelimuti Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto pada Jumat siang ini.

Ratusan jamaah dari berbagai penjuru memadati kediaman Gus Jalil Jalaluddin dalam rangka mengikuti rutinan Pengajian “13-an”. Agenda yang menjadi magnet spiritual warga setempat ini menghadirkan pesan mendalam tentang navigasi batin dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh agama dan gus ternama, di antaranya Gus M. Farid Nuruddin, Gus Sugeng Anwarudin, dan Gus Thoin, yang turut memberikan dukungan moral bagi keberlangsungan majelis ilmu ini.

Keberkahan: Bukan Soal Jumlah, Tapi Kemanfaatan
Dalam sesi pertama, Bu Nyai Khumairoh memberikan paparan bernas mengenai konsep keberkahan hidup. Beliau menekankan bahwa banyak orang terjebak mengejar kuantitas materi, namun melupakan esensi barokah.

“Berkah itu bukan berarti jumlahnya banyak, tapi ziyadatul khair, bertambahnya kebaikan. Harta sedikit tapi cukup untuk ibadah dan menyekolahkan anak, itu berkah. Umur pendek tapi manfaatnya luas, itu berkah,” urai Bu Nyai Khumairoh di hadapan jamaah yang menyimak dengan antusias.

Beliau juga mengingatkan bahwa pintu keberkahan seringkali terbuka melalui jalur bakti kepada orang tua dan menjaga kerukunan dalam rumah tangga.

Lillahi Ta’ala: Seni Berserah Diri Tanpa Menyerah

Melanjutkan pesan spiritual tersebut, Gus Izzul Kafie mengupas tuntas mengenai konsep kepasrahan hidup atau tawakkal yang sesungguhnya. Menurut beliau, kepasrahan kepada Allah (Lillahi ta’ala) bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan puncak dari kekuatan mental seorang mukmin.

“Pasrah itu diletakkan setelah ikhtiar maksimal. Ketika kita sudah berkata ‘Lillahi ta’ala’, maka beban di pundak kita sejatinya sudah kita titipkan kepada Sang Pemilik Semesta. Inilah kunci ketenangan batin di tengah zaman yang penuh tuntutan ini,” tegas Gus Izzul.

Beliau menambahkan bahwa hidup dengan prinsip Lillahi ta’ala akan menjauhkan seseorang dari sifat sombong saat berhasil, dan menghindarkan dari depresi saat menghadapi kegagalan.

Guyub Rukun di Desa Ngimbangan
Kehadiran para tokoh seperti Gus Farid, Gus Sugeng, dan Gus Thoin menambah marwah pertemuan rutin ini. Kehadiran mereka menyimbolkan kuatnya jejaring silaturahmi antar-pesantren dan tokoh agama di wilayah Mojokerto.

Gus Jalil Jalaluddin selaku tuan rumah menyampaikan rasa syukur atas istiqomahnya para jamaah yang hadir. Pengajian “13-an” ini memang telah lama menjadi wadah “cas batin” bagi warga, sekaligus menjadi penggerak ekonomi mikro bagi pedagang kecil di sekitar lokasi acara.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Gus Farid Nuruddin, memohon keselamatan bangsa dan kemantapan iman bagi seluruh jamaah yang hadir.

[Alfan]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *