​Dugaan Rekrutmen “Formalitas” SPPG Dapur MBG Tuai Kritik, Benarkah Kursi Sudah Terisi Orang Dalam?

​18 Februari 2026, Fspkep.id– Proses rekrutmen Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) untuk program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Teritorial tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, pengumuman lowongan kerja yang dipasang secara terbuka di papan pengumuman dinilai hanya sebagai “panggung sandiwara” untuk menutupi dugaan praktik nepotisme.

​Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sejumlah pelamar dan sumber internal menyatakan bahwa daftar nama tenaga kerja yang akan mengisi posisi tersebut sebenarnya sudah ditentukan sebelum periode pendaftaran resmi berakhir.

​Sorotan Publik terhadap Transparansi
​Keresahan mencuat ketika diketahui bahwa kandidat-kandidat yang diprediksi lolos didominasi oleh individu yang memiliki kedekatan personal atau hubungan kekerabatan dengan pihak-pihak berkepentingan.

​”Untuk apa papan pengumuman rekrutmen itu dipasang dengan gagah jika di dalam dapur namanya sudah ada? Ini hanya memberikan harapan palsu bagi masyarakat umum yang benar-benar membutuhkan pekerjaan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan identitasnya.

​Dugaan Keterlibatan “Orang Dekat”

​Isu ini semakin memanas dengan adanya laporan bahwa sebagian besar kuota pekerja telah diisi oleh sanak saudara dari jajaran investor proyek serta kerabat pejabat di lingkungan pemerintah daerah setempat.

Hal ini memicu spekulasi bahwa jabatan di SPPG Dapur MBG dijadikan sebagai instrumen “balas budi” politik atau keuntungan pribadi bagi pemilik modal.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Dapur MBG maupun otoritas daerah terkait belum memberikan pernyataan resmi mengenai mekanisme seleksi yang digunakan untuk menepis tudingan miring tersebut.

​Urgensi Pengawasan

​Para pengamat kebijakan publik mendesak adanya transparansi total dalam proses seleksi ini. Mengingat program MBG adalah program strategis nasional yang didanai oleh anggaran publik, rekrutmen tenaga kerja seharusnya didasarkan pada kompetensi dan kualifikasi, bukan pada kedekatan garis keturunan.

​Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pihak pengawas untuk memastikan bahwa dapur yang bertujuan memberikan gizi bagi generasi bangsa ini tidak dikelola dengan cara-cara yang “kurang bergizi” secara etika.

(alfan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *