Jakarta , Fspkep.id | Said Iqbal bukan produk instan gerakan buruh. Ia lahir, tumbuh, dan ditempa langsung di lantai pabrik ruang paling keras dalam realitas kelas pekerja. Dari sanalah ia memulai jalan panjang perjuangannya, memimpin serikat buruh dari tingkat perusahaan, cabang, provinsi, hingga nasional. Jalur ini membentuk kepemimpinan yang tidak berjarak dengan penderitaan buruh, karena ia sendiri pernah menjalaninya.
Kontribusi paling menentukan dari Said Iqbal adalah mengembalikan gerakan buruh ke posisi sejatinya: kekuatan politik rakyat. Di bawah kepemimpinannya, buruh tidak lagi sekadar menjadi objek kebijakan atau korban regulasi, tetapi subjek yang sadar, terorganisasi, dan berani melawan. Gerakan buruh tidak dibangun atas emosi sesaat, melainkan strategi konsep yang jelas, lobi yang terukur, tekanan massa yang konsisten, serta keberanian mengambil sikap politik.
Ia mematahkan fragmentasi yang selama bertahun-tahun melemahkan buruh. Said Iqbal mengonsolidasikan pekerja lintas sektor logam, tekstil, otomotif, tambang, hingga jasa dalam satu barisan perjuangan melawan kebijakan yang merampas hak, menekan upah, dan mengorbankan martabat kelas pekerja atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi semu.
Di tingkat global, Said Iqbal tidak sekadar hadir sebagai simbol. Ia tercatat tiga periode menjadi anggota Governing Body International Labour Organization (ILO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang ketenagakerjaan. Posisi strategis ini menjadikan buruh Indonesia bukan lagi penonton, tetapi aktor yang suaranya diperhitungkan dalam percaturan ketenagakerjaan dunia.
Melalui jaringan internasional tersebut, isu perburuhan Indonesia dibawa ke forum global mulai dari pelanggaran hak normatif, union busting, hingga kebijakan ketenagakerjaan yang menindas. Solidaritas internasional dibangun bukan untuk pencitraan, melainkan sebagai alat tekan nyata.
Namun yang paling membedakan Said Iqbal dari banyak tokoh lainnya adalah konsistensi. Ia tidak menggunakan buruh sebagai komoditas politik. Ia hadir di jalanan, berdiri saat intimidasi datang, dan tetap bertahan ketika perjuangan menjadi tidak populer. Said Iqbal bukan sekadar pemimpin organisasi, ia adalah bagian dari denyut nadi perlawanan kaum buruh.
Dalam sejarah gerakan buruh Indonesia, Said Iqbal mencatatkan satu pesan penting: perubahan tidak pernah diberikan, ia harus direbut secara kolektif dan terorganisasi.
[ Red ]






















Leave a Reply