Pidato Presiden Dinilai Abaikan Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Buruh dan Rakyat

Cataran Sore Bersama Timboel Siregar

Jakarta, Fspkep.id | Timboel Siregar menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilai meremehkan pelemahan nilai tukar rupiah. Sikap tersebut dianggap memberikan kesan ketidakberpihakan pemerintah terhadap kondisi masyarakat, khususnya buruh dan keluarganya.

Menurut Timboel Siregar, pelemahan rupiah akan berdampak luas kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat di pedesaan. Hal itu disebabkan banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor yang membutuhkan dolar Amerika Serikat untuk menjaga kelangsungan produksi.

“Ketika rupiah melemah, harga barang akan naik. Akibatnya daya beli masyarakat menurun dan upah riil buruh ikut tergerus sehingga kesejahteraan pekerja semakin menurun,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perusahaan yang tidak mampu mengatasi tekanan arus kas akibat pelemahan rupiah berpotensi melakukan pengurangan tenaga kerja. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih besar.

Dalam catatannya, Timboel turut menyinggung sikap sebagian aktivis serikat pekerja dan serikat buruh yang dinilai cenderung diam terhadap kondisi ekonomi saat ini. Ia menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah semakin jarang terdengar, sementara sejumlah aktivis justru lebih banyak hadir dalam agenda seremonial pemerintahan.

“Undangan seremonial, pemberian jabatan kepada aktivis buruh, hingga pengiriman menghadiri International Labour Conference (ILC) di Jenewa dinilai menjadi bagian dari upaya meredam suara buruh,” katanya.

Padahal, lanjutnya, buruh saat ini menghadapi ancaman nyata berupa penurunan daya beli, penurunan upah riil, hingga ancaman PHK yang dapat mendorong meningkatnya angka kemiskinan.

“Buruh membutuhkan keberpihakan nyata, bukan sekadar seremoni,” tutup Timboel.

[ Redaksi]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *