Konferensi Organizer Regional Asia Tenggara Dorong Penguatan Serikat Pekerja dan Perluasan Pengorganisasian

JAKARTA, Fspkep.id | IndustriALL Asia Tenggara menggelar Southeast Asia Regional Organizers Conference di Harris Hotel Kelapa Gading, Jakarta, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026. Konferensi tersebut menjadi forum bagi para pengurus, organizer, pekerja muda, serta perwakilan serikat pekerja dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand untuk bertukar pengalaman serta memperkuat strategi pengorganisasian pekerja di kawasan Asia Tenggara.

Konferensi diikuti oleh delegasi Indonesia yang terdiri atas FSP KEP KSPI sebanyak tiga orang, CEMWU dua orang, FARKES/R tiga orang, FSP2KI satu orang, dan FSPMI dua orang. Selain itu, hadir empat peserta dari Malaysia, lima peserta dari Filipina, dan empat peserta dari Thailand.

Sejumlah perwakilan IndustriALL Asia Tenggara turut hadir, antara lain Ramon Certeza, Lorna, dan Indah dari Kantor IndustriALL Asia Tenggara. Hadir pula perwakilan Project Electro Power, Mia dan Wisnu, serta Project UtoU, Dhana.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan pernyataan “Tidak Ada Toleransi” sebagai penegasan komitmen IndustriALL terhadap lingkungan kerja dan organisasi yang menjunjung tinggi martabat serta rasa saling menghormati. IndustriALL menegaskan kebijakan zero tolerance terhadap Kekerasan dan Pelecehan Berbasis Gender (GBVH), misogini, dan seksisme.

Seluruh bentuk diskriminasi, perilaku yang tidak dapat diterima, maupun ancaman yang dapat menimbulkan kerugian fisik, psikologis, seksual, ataupun ekonomi ditegaskan tidak dapat ditoleransi, baik dalam bentuk kejadian tunggal maupun tindakan yang berulang.

Dorong Ratifikasi Konvensi ILO 190

Ketua IndustriALL Indonesia Council, Iwan Kusmawan, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya penguatan perlindungan pekerja, termasuk melalui ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja.

Ia menyampaikan bahwa Komite Perempuan IndustriALL Indonesia bersama tiga proyek IndustriALL Indonesia, yakni UtoU, BBTK, dan SASK, sebelumnya telah melaksanakan konferensi nasional yang mendorong ratifikasi Konvensi ILO 190. Kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun dukungan terhadap ratifikasi konvensi tersebut di Indonesia.

Iwan juga menyinggung dinamika hubungan industrial di Indonesia, termasuk persoalan regulasi ketenagakerjaan dan perjuangan buruh melalui jalur hukum. Menurutnya, perjuangan serikat pekerja membutuhkan strategi, kemampuan teknis, serta pengorganisasian yang kuat.

“Bicara pengorganisasian tidak mudah dan diperlukan teknik secara khusus. Kadang mendapatkan tekanan dari aparat,” ujarnya.

Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi di Malaysia, Filipina, dan Thailand. Iwan juga menekankan bahwa keberadaan serikat pekerja merupakan hasil dari proses negosiasi dan perjuangan bersama.

Organizer Punya Peran Strategis

Sekretaris Jenderal IndustriALL Asia Tenggara, Ramon Certeza, mengatakan konferensi tersebut dihadiri banyak pimpinan serikat pekerja, alumni Organizer Development Programme (ODP), perempuan mentee, serta pekerja muda.

Menurut Ramon, forum tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman mengenai pengorganisasian pekerja sekaligus meningkatkan kekuatan serikat pekerja.

Ia menegaskan, peran organizer tidak sebatas merekrut anggota baru. Organizer juga memiliki tugas mempersatukan pekerja, membangun kampanye, menangani persoalan pekerja, serta mendorong aksi kolektif.

“Bukan hanya merekrut anggota, tetapi mempersatukan, kampanye menangani persoalan pekerja dan aksi kolektif,” kata Ramon.

Ramon juga menekankan pentingnya menyusun rencana konkret untuk memperkuat serikat pekerja. Menurutnya, kekuatan pekerja tidak hanya dibangun melalui proses organising, tetapi juga melalui solidaritas dan aksi kolektif.

Konferensi regional organizer ini merupakan penyelenggaraan pertama. Ramon juga menyampaikan rencana Konferensi Organizer Global yang akan digelar di Kuala Lumpur pada Oktober, seraya mengajak para peserta, khususnya alumni ODP, untuk berpartisipasi dalam agenda tersebut.

Bahas Pekerjaan Precarious hingga Ketimpangan Gender

Konferensi secara khusus diarahkan untuk memperoleh dan berbagi pengalaman nyata dari masing-masing negara peserta serta mengidentifikasi praktik-praktik terbaik dalam pengorganisasian pekerja.

Peserta juga membahas strategi serikat pekerja dalam menghadapi pekerjaan yang tidak stabil (precarious work), ketimpangan gender, serta berbagai strategi untuk meningkatkan jumlah dan kepadatan anggota serikat pekerja.

Selain itu, forum memperdalam pemahaman peserta terhadap prioritas IndustriALL Asia Tenggara, termasuk isu human rights due diligence serta penggunaan perangkat global dalam mendukung pengorganisasian.

Para peserta juga diarahkan untuk mengidentifikasi sektor-sektor prioritas yang dapat menjadi target pengorganisasian serta membangun wadah komunikasi rutin, jaringan regional, dan pertukaran informasi antarserikat pekerja.

Bahas Union Busting dan Strategi Kampanye

Dalam sesi diskusi kelompok, peserta membahas berbagai persoalan yang dihadapi serikat pekerja, termasuk praktik union busting. Pembahasan mencakup identifikasi kasus, pemenuhan hak pekerja, pengumpulan bukti, mekanisme pengaduan, aspek hukum, hingga langkah-langkah pencegahan.

Setiap federasi juga berbagi pengalaman mengenai target kampanye pengorganisasian, keberhasilan yang telah dicapai, tantangan yang dihadapi, metode yang digunakan, serta hasil dari kampanye tersebut.

Sejumlah materi disampaikan secara daring melalui Zoom oleh Sist Sarah dari Project Youth, Sist Armelle Seby dari Project Gender, dan Bro Walton dari Project Organizing.

Peserta juga mengikuti paparan kegiatan pengorganisasian dari sejumlah negara. Indonesia diwakili FSPMI dan FARKES/R, Malaysia melalui EIEU dan NUTEAIW, Filipina melalui FFW dan PTGWO, serta Thailand melalui CILT.

Ramon Certeza kemudian memberikan materi mengenai pengorganisasian melalui program ODP. Sementara itu, sesi berbagi pengalaman menghadirkan perwakilan FSP KEP, CILT, EIEU, dan JNT untuk membagikan praktik serta tantangan pengorganisasian di lapangan.

Perkuat Organizing Lintas Sektor

Materi lainnya disampaikan Indah sebagai project tema Cross Sectoral Work for Organising. Dalam sesi tersebut, membahas isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), termasuk berbagai konvensi ILO yang relevan dengan persoalan K3.

Pada sesi terakhir, peserta dibagi dalam kelompok berdasarkan negara dan sektor untuk menyusun strategi pengorganisasian lebih spesifik.

Untuk Indonesia, diskusi dibagi menjadi tiga kelompok sektor, yakni sektor nikel yang melibatkan FSPMI, FSP KEP, CEMWU, dan SPN; sektor kimia yang melibatkan FARKES/R dan SPN; serta sektor pulp dan kertas yang melibatkan FSP2KI.

Pembagian tersebut diharapkan dapat menghasilkan strategi pengorganisasian yang lebih terarah, sesuai dengan karakteristik dan persoalan yang dihadapi pekerja di masing-masing sektor.

Konferensi ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat jaringan organizer di Asia Tenggara, meningkatkan kapasitas serikat pekerja, serta membangun kekuatan kolektif pekerja melalui pengorganisasian dan solidaritas lintas negara.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *