Timboel Siregar Soroti Asumsi Nilai Tukar Rupiah dalam RAPBN 2027

Jakarta, Fspkep.id I Pengamat ketenagakerjaan dan jaminan sosial, Timboel Siregar, menyoroti asumsi nilai tukar rupiah yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2027 pada 21 Mei 2026.

Dalam pidato tersebut, pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS untuk APBN 2027. Angka tersebut lebih tinggi dibanding asumsi nilai tukar pada APBN 2026 yang berada di level Rp16.500 per dolar AS.

Menurut Timboel, asumsi tersebut menunjukkan pemerintah seolah tidak memiliki upaya kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah seperti target yang ditetapkan pada APBN tahun sebelumnya.

“Dengan asumsi tersebut, pemerintah seakan tidak ada niat dan upaya untuk menstabilkan rupiah seperti asumsi di APBN 2026,” ujar Timboel Siregar.

Ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak langsung terhadap dunia usaha, khususnya sektor industri yang masih bergantung pada impor bahan baku dan kebutuhan dolar AS untuk proses produksi.

“Dunia usaha yang membutuhkan dolar untuk membeli bahan baku guna menjalankan proses produksinya akan mengalokasikan rupiah yang lebih besar, dan ini pada akhirnya mempengaruhi harga penjualan,” katanya.

Timboel berpendapat pemerintah seharusnya berupaya mempertahankan stabilitas rupiah pada level yang lebih kuat dalam penyusunan APBN 2027. Menurutnya, posisi cadangan devisa Indonesia yang disebut mencapai USD 146,2 miliar dapat menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ia juga menyinggung keberadaan Badan Ekspor yang diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa nasional dan mendukung penguatan rupiah.

“Dengan cadangan devisa sebesar USD 146,2 miliar yang disebut dalam pidato kemarin dan harus ditingkatkan dengan adanya Badan Ekspor, saya berharap pemerintah berani mengasumsikan nilai tukar rupiah di 2027 sama seperti asumsi APBN 2026,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara berkembang yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun mendatang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *