Sidoarjo, Fspkep.id | Ketua DPC FSP KEP Kabupaten Sidoarjo, Dani Hertanto, menginformasikan tentang sebuah tempat yang kini tengah menjadi primadona bagi para penikmat senja dan pencinta ketenangan: Warung Syahdu Dam Sumput. Meski lokasinya sedikit tersembunyi dari jalan utama, pesonanya justru mampu memanggil langkah siapa pun yang merindukan keteduhan di tengah hiruk pikuk keseharian.
Setiap sore menjelang pukul tiga, aroma kopi panas dan gurihnya tahu petis mulai tercium dari dapur warung. Deretan warung sederhana di tepi Dam Sumput pun perlahan membuka layanan, menyambut para pengunjung yang datang silih berganti hingga malam tiba. Tempatnya memang tidak besar, namun suasananya begitu menenangkan — perpaduan semilir angin sore, gemericik air bendungan, dan cahaya senja yang memantul lembut di permukaan air.

Menurut Dani Hertanto, pengunjung warung ini datang dari berbagai penjuru, tidak hanya warga sekitar tetapi juga para pekerja dari PT Youngtree yang lokasinya cukup jauh dari Dam Sumput. “Hampir setiap sore mereka datang berkelompok, menjadikan tempat ini semacam terminal rasa lelah setelah seharian bekerja,” ujarnya. Seorang karyawan bahkan berseloroh, “Pokoknya kalau sudah jam pulang, arahnya ya ke Dam Syahdu.”
Tak hanya pekerja pabrik, anak-anak karang taruna dari Desa Kepunten pun kerap menjadikan tempat ini sebagai titik kumpul. Mereka duduk santai di tepian bendungan sambil bercanda, menikmati martabak mie atau ketan sambal buatan warung setempat. “Menunya sederhana, tapi rasanya ngangenin,” tutur salah satu pengunjung muda.
Menu yang disajikan khas warung kampung, namun penuh cita rasa: kopi tubruk, dawet segar, es degan, es teh, martabak mie, tahu petis, nasi campur, hingga sego lento. Semua dibuat dari bahan lokal dan disajikan hangat-hangat. Harganya yang bersahabat menjadikan tempat ini favorit lintas kalangan dari pekerja pabrik hingga keluarga muda.
Menariknya, pengelolaan parkir di kawasan Dam Sumput juga tertata rapi. Para petugas dari masjid di depan warung turut membantu mengatur kendaraan, sehingga pengunjung merasa aman dan nyaman. Saat waktu magrib tiba, suasana menjadi semakin khidmat — suara takbir dan tarkhim dari masjid berpadu dengan percakapan lembut para pengunjung yang tengah menyesap dawet atau menikmati martabak mie.
Salah satu pengunjung setia, Bu Sarmi, mengaku rela datang jauh-jauh dari Kenjeran, Surabaya, demi menikmati suasana damai di Dam Sumput. “Astaghfirullah, jauh ya, tapi kalau pengen suasana syahdu, cuma di sini tempatnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah seperti Bu Sarmi bukanlah hal yang langka. Banyak pengunjung rela menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk menikmati segelas dawet dan ketenangan di Warung Syahdu Dam Sumput. Tempat ini bukan sekadar destinasi kuliner, melainkan ruang sederhana yang menawarkan pengalaman batin, tempat di mana penat luruh bersama indahnya senja.
Bagi siapa pun yang ingin sejenak melarikan diri dari kebisingan kota, Warung Syahdu Dam Sumput adalah jawabannya. Di sini, senja bukan hanya waktu, melainkan perasaan — tentang syukur, kebersamaan, dan ketenangan yang tak mudah ditemukan di tempat lain. [Red]






















Leave a Reply