Keanggotaan Stagnan, Serikat Pekerja Didorong Perkuat Strategi Pengorganisasian

Bogor, Fspkep.id | Densitas keanggotaan serikat pekerja di Indonesia yang stagnan di angka 3,5 juta orang setiap tahun menjadi sorotan dalam Workshop Pengorganisasian IndustriALL (Project UtoU di Indonesia) yang digelar pada 4–5 Mei 2026 di Hotel Permata Bogor.

Kondisi tersebut dinilai sebagai tantangan besar bagi gerakan buruh untuk mengembangkan strategi pengorganisasian yang lebih efektif dan terarah. Upaya peningkatan keanggotaan dinilai perlu difokuskan pada kelompok pekerja rentan, seperti pekerja prekarius, pekerja muda, dan perempuan.

Peserta dari FSP KEP KSPI

Dalam kegiatan ini, IndustriALL menegaskan komitmennya untuk mendukung pengorganisasian serikat pekerja di seluruh dunia. Fokus utama diarahkan pada penguatan budaya organisasi di tingkat afiliasi, dengan prinsip membangun serikat yang kuat, demokratis, transparan, inklusif, serta mendorong kerja sama antar serikat tanpa persaingan, dan tetap mandiri.

Workshop ini bertujuan memperkuat kapasitas serikat pekerja dalam pengorganisasian strategis, meningkatkan jumlah anggota melalui penguatan basis di tempat kerja, serta mengembangkan keterampilan praktis dalam teknik pengorganisasian. Selain itu, peserta juga didorong untuk menyusun rencana tindak lanjut (action plan) yang konkret dan aplikatif.

Metode pelatihan dilakukan secara partisipatif melalui diskusi, role play, dan kerja kelompok, sehingga peserta dapat terlibat aktif dalam setiap sesi.

Peserta workshop merupakan pengurus serikat pekerja dan tim organiser dari tingkat DPD, DPC, hingga PUK yang berasal dari federasi afiliasi IndustriALL. Dari FSP KEP, tercatat enam peserta yang hadir, yaitu Indra S (DPC Jakarta Utara), Andri (DPC Jakarta Timur), Selamat (DPC Bogor), Harjuno (DPC Serang), Yusron A (DPC Cilegon), dan Ade K (PUK Goodyear).

Materi yang disampaikan dalam workshop mencakup analisis SWOT dalam pengorganisasian serikat pekerja, teknik riset dan analisis perusahaan target, penyusunan dokumentasi dan bagan pengorganisasian, hingga teknik komunikasi satu lawan satu. Peserta juga mengikuti simulasi (role play) pengorganisasian pekerja yang belum berserikat serta di perusahaan yang belum memiliki serikat pekerja.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) sebagai langkah konkret untuk mengimplementasikan hasil pelatihan di masing-masing wilayah kerja peserta.

[ Endang Wahyuningsih ]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *